Dalam hidup yang kompleks ini, kita "terpaksa" memilih untuk memperhatikan dan mengabaikan, agar hidup lebih efektif dan efisien serta tidak terganggu dengan hal2 yang kurang relevan untuk melanjutkan kehidupan.
Perhatian tentu akan dipusatkan kepda hal2 yang dianggap lebih penting, berdaya guna, dan menyenangkan (tapi tak semua yang berguna itu menyenangkan sih). Sementara, hal2 yang dianggap menyusahkan, membingungkan, sulit untuk diubah akan cenderung kita abaikan. Masih banyak masalah yang lebih penting untuk diperhatikan dan diselesaikan.
Apabila masalah tidak kita selesaikan, apalagi sengaja ditinggal pergi begitu saja, yaudah jadilah masalah itu duri dalam daging (?).
Haha, maksudnya begitu kita dihadapkan pada masalah yang mirip, atau bahkan masalah itu terungkit kembali, kita jadi kalang kabut dan kesakitan lagi untuk kedua kalinya.
Cie.
Curhat ya? Haha.
Sebenernya, ga asik kan sakit lagi gara2 masalah yang itu2 lagi? Tapi selama ga diselesaikan, bisa aja muncul lagi, bahkan ngejar kita seumur hidup, meminta untuk diselesaikan...
Sebenernya, setelah curhat di postingan sebelum ini, aku jadi inget masalah yang sengaja aku lupain. Yah, masalah kepercayaan terhadap lingkaran pertemanan. Seperti yang udah kusinggung dalam posting tersebut, aku trauma (sampe sekarang) karna diusir sama temen2 deket sendiri. Yang gak kusadari, aku berusaha untuk melupakan, bukan merelakan. Alhasil, semakin dewasa aku hanya berani dekat secara hati ke hati, bukan sekaligus ke banyak hati.
Mungkin banget gak karena trauma itu?
Yang gak pernah aku relain buat pergi, duh.
Jadi kalo buat masalahku yang ini, mungkin cara untuk menyelesaikannya adalah: relakan. Biar saja mereka mengusirmu, toh smakin dewasa kamu lihat kan gimana bedanya mereka. Memang sudah tidak cocok, maka relakan. Dan jangan berburuk sangka kepada kelmpk pertemanan lagi, heu.
Teorinya demikian, tapi entahlah.
Payah nih aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar