Tampilkan postingan dengan label masalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masalah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2013

Messed Up

Saat mencoba menghentikan kebiasaan buruk yang satu,

kebiasaan buruk yg lain muncul dan terjadi.


Saat menahan yg sedang terjadi,
seakan kereta keburukan itu terus melaju,


menjadi hal2 buruk lainnya.

Terus bermunculan, bolong-tambal.





Payah.

Jumat, 29 November 2013

Dugaan

Selama otak masih gini2 aja,

pikirannya selalu menduga-duga.



dugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugaduga


sampai akhirnya sakit hati sendiri dan melupakan.

lupa. #eaa

Bingung ah

Udah tau medsos bikin otak gak sehat.

Masih aja kepo.

#antimedsos
#medsospenyebarfitnah

Rabu, 27 November 2013

Ditunda

Kalo ada masalah, terus gak diberesin

Ditunda, dicuekin

Iya, mungkin aku lupa,
tapi bakal ngomelin yang sama tiap inget



Karna ga pernah dijelasin.



Kalo harus ngerti sendiri?
Begitu aku bilang gini,
kamu ga terima.



Yaudah, aku ngomel aja terus
biar kamu gak tahan


terus keceplosan deh.

Selasa, 26 November 2013

Capek

Akhir2 ini jadi ngeremehin banyak hal.

Kacau sih, kayak memaksa berganti kehidupan, tapi gak bisa.

Jadi lebih banyak tidur juga, buat kabur dari kenyataan.

Gak baik sih, tapi semoga gak kelamaan kayak gininya.

Orang yang Tak Mampu Menerapkan Ilmunya

Otak penuh, perilaku nihil.
Sukanya mengkritik, tapi kelakuannya sama saja seperti yang dikritik.

Kalau seseorang bertindak tanpa ilmu, itu namanya gegabah.
Kalau seseorang bertindak di luar ilmunya, itu baru namanya bodoh.

Senin, 25 November 2013

Suntuk dengan Keseharian

Semua orang bisa dipastikan pernah merasakan kebosanan dalam hidupnya, apalagi kalo emang lagi monoton banget kegiatannya, itu2 aja yang dilakukan setiap harinya. Apakah bosan itu terlarang?

Kok bisa mikir gitu? Iyaa soalnya kalo bosan kita cenderung melakukan apapun biar ga bosen langsung, termasuk melanggar aturan, melanggar prinsip, yang penting jadi ga suntuk lagi.

Yang pernah kutonton di youtube, ada pembahasan secara psikologis kenapa manusia punya rasa bosan, dan apa tujuannya dari rasa bosen.

Coba deh direnungin, kalo kita ga bosen2, kita cenderung akan melakukan hal yang sama seumur hidup kita, yang artinya pengalaman kita akan hanya dalam hal dan bidang yang itu2 saja.

Katanya sih, bosen itu muncul sebagai pertanda untuk melakukan hal lain yang lebih baik daripada saat itu, mendorong manusia untuk berinovasi dan berkembang lebih baik lagi.

Coba direnungkan...bener ga sih?

Atau, punya pendapat lain?


Sumber tontonan: vsauce (youtube).

Sabtu, 23 November 2013

Menyadari yang Selama Ini Diabaikan

Dalam hidup yang kompleks ini, kita "terpaksa" memilih untuk memperhatikan dan mengabaikan, agar hidup lebih efektif dan efisien serta tidak terganggu dengan hal2 yang kurang relevan untuk melanjutkan kehidupan.

Perhatian tentu akan dipusatkan kepda hal2 yang dianggap lebih penting, berdaya guna, dan menyenangkan (tapi tak semua yang berguna itu menyenangkan sih). Sementara, hal2 yang dianggap menyusahkan, membingungkan, sulit untuk diubah akan cenderung kita abaikan. Masih banyak masalah yang lebih penting untuk diperhatikan dan diselesaikan.

Apabila masalah tidak kita selesaikan, apalagi sengaja ditinggal pergi begitu saja, yaudah jadilah masalah itu duri dalam daging (?).

Haha, maksudnya begitu kita dihadapkan pada masalah yang mirip, atau bahkan masalah itu terungkit kembali, kita jadi kalang kabut dan kesakitan lagi untuk kedua kalinya.

Cie.

Curhat ya? Haha.

Sebenernya, ga asik kan sakit lagi gara2 masalah yang itu2 lagi? Tapi selama ga diselesaikan, bisa aja muncul lagi, bahkan ngejar kita seumur hidup, meminta untuk diselesaikan...


Sebenernya, setelah curhat di postingan sebelum ini, aku jadi inget masalah yang sengaja aku lupain. Yah, masalah kepercayaan terhadap lingkaran pertemanan. Seperti yang udah kusinggung dalam posting tersebut, aku trauma (sampe sekarang) karna diusir sama temen2 deket sendiri. Yang gak kusadari, aku berusaha untuk melupakan, bukan merelakan. Alhasil, semakin dewasa aku hanya berani dekat secara hati ke hati, bukan sekaligus ke banyak hati.

Mungkin banget gak karena trauma itu?

Yang gak pernah aku relain buat pergi, duh.

Jadi kalo buat masalahku yang ini, mungkin cara untuk menyelesaikannya adalah: relakan. Biar saja mereka mengusirmu, toh smakin dewasa kamu lihat kan gimana bedanya mereka. Memang sudah tidak cocok, maka relakan. Dan jangan berburuk sangka kepada kelmpk pertemanan lagi, heu.

Teorinya demikian, tapi entahlah.

Payah nih aku.