Tampilkan postingan dengan label pahit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pahit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 November 2013

Dugaan

Selama otak masih gini2 aja,

pikirannya selalu menduga-duga.



dugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugadugaduga


sampai akhirnya sakit hati sendiri dan melupakan.

lupa. #eaa

Rabu, 27 November 2013

Hidup Susah

Susah yah cari teman hidup
untuk bersusah-susah?



Kalo maunya enaknya sendiri
dari dulu aku udah gitu
gausah nyari temen malah


Begitu pengen ngebenerin diri

yang paling deket aja gak ngerepons.



Susah yah cari temen
untuk hidup susah


Kalo buat senang-senang,
banyak banget yang bersedia




Bener-bener susah deh
padahal pengen banget
saling mengingatkan

Dan saling bersabar
dalam kebaikan.




Surat sesimpel Al-Asr aja
bikin banget iri.

Demi waktu
Manusia merugi



Huh.

Sabtu, 23 November 2013

Menyadari yang Selama Ini Diabaikan

Dalam hidup yang kompleks ini, kita "terpaksa" memilih untuk memperhatikan dan mengabaikan, agar hidup lebih efektif dan efisien serta tidak terganggu dengan hal2 yang kurang relevan untuk melanjutkan kehidupan.

Perhatian tentu akan dipusatkan kepda hal2 yang dianggap lebih penting, berdaya guna, dan menyenangkan (tapi tak semua yang berguna itu menyenangkan sih). Sementara, hal2 yang dianggap menyusahkan, membingungkan, sulit untuk diubah akan cenderung kita abaikan. Masih banyak masalah yang lebih penting untuk diperhatikan dan diselesaikan.

Apabila masalah tidak kita selesaikan, apalagi sengaja ditinggal pergi begitu saja, yaudah jadilah masalah itu duri dalam daging (?).

Haha, maksudnya begitu kita dihadapkan pada masalah yang mirip, atau bahkan masalah itu terungkit kembali, kita jadi kalang kabut dan kesakitan lagi untuk kedua kalinya.

Cie.

Curhat ya? Haha.

Sebenernya, ga asik kan sakit lagi gara2 masalah yang itu2 lagi? Tapi selama ga diselesaikan, bisa aja muncul lagi, bahkan ngejar kita seumur hidup, meminta untuk diselesaikan...


Sebenernya, setelah curhat di postingan sebelum ini, aku jadi inget masalah yang sengaja aku lupain. Yah, masalah kepercayaan terhadap lingkaran pertemanan. Seperti yang udah kusinggung dalam posting tersebut, aku trauma (sampe sekarang) karna diusir sama temen2 deket sendiri. Yang gak kusadari, aku berusaha untuk melupakan, bukan merelakan. Alhasil, semakin dewasa aku hanya berani dekat secara hati ke hati, bukan sekaligus ke banyak hati.

Mungkin banget gak karena trauma itu?

Yang gak pernah aku relain buat pergi, duh.

Jadi kalo buat masalahku yang ini, mungkin cara untuk menyelesaikannya adalah: relakan. Biar saja mereka mengusirmu, toh smakin dewasa kamu lihat kan gimana bedanya mereka. Memang sudah tidak cocok, maka relakan. Dan jangan berburuk sangka kepada kelmpk pertemanan lagi, heu.

Teorinya demikian, tapi entahlah.

Payah nih aku.

Ceritanya Galau dan Nelangsa

Ehem, kayaknya ini bakal jadi rangkuman terkomprehensif soal kehidupan sosialku dari kecil sampai sekarang nih, hehe. (sebelum blog ini banyak orang yang tau, kalo posting2 bawah kan suka ga kebaca hahaha)

Sebelumnya, latar belakang mengapa aku memutuskan (ceilah) untuk membongkar (paksa) sendiri salah satu sisi hidupku yang kelam (aduh lebay) adalah...
...karena kayaknya masa kuliah ini adalah fase paling terburuk sepanjang hidupku sampai saat ini, dalam kehidupan sosialku.

Nah loh, ada apa nih??

Ayo kita mulai kisahnya dari zaman aku masih ceria dan polos~

Alkisah, ada anak kecil gendut dan cina abiez yang tinggal di sebuah kota industri di ujung barat Pulau Jawa. Namanya Dirwid (bukan nama sebenarnya, tapi akronim dari nama panjangnya wkwk), anak pertama dalam keluarga perantau dari Jawa Timur.