Minggu, 07 Desember 2014

Craving for Attention

I'm craving for attention so much...
So much, that once I had a near-madness experience.

Halo, selamat pagi :)

Semalam saya nonton playlist TED mengenai orang2 yang unik kepribadiannya, sebenarnya lebih unik karna bukan hanya variasi saja tapi memang mereka pernah didiagnosis memiliki penyakit kejiwaan. Mereka sampai pada tahap di mana orang2 di sekitarnya ketakutan akan dirinya, dan para psikiatri ga punya harapan lagi untuk menyembuhkan mereka. Malahan, hal2 tersebut membuat mereka makin down, kecuali untuk orang2 yang sudah ga punya kesadaran lagi.

Dan biasanya, orang2 yang setipe mereka bakal tersentuh banget sama kisah mereka. Oh ya? Apakah sudah saatnya saya membuka kartu? :p

Saya pun merasa, yah, agak unik lah dari orang kebayakan. Saya introvert, saya kaku, saya perfeksionis, saya kurang lancar bersosialisasi, saya suka menyendiri, dan banyak hal. Saya kurang nyaman dengan interaksi sosial basa-basi, saya menginginkan makna yang lebih dalam pada sebuah interaksi, seperti berbagi ilmu dan pengalaman, berbagi perhatian dan kisah menyenangkan. Saya ingin ada koneksi yang bikin nyaman. Wah, keliatan ya banyak maunya? Haha

Nah, dari sekian persyaratan kenyamanan berinteraksi tersebut, dan dari ribuan orang yang pernah kenal dan berteman dengan saya, tentulah suatu saat akan menemukan beberapa kelompok teman yang matching, dan ada segelintir orang yang membuat diri saya sangat nyaman, sampai2 tidak ingin kehilangan karna kapan lagi saya bisa berinteraksi sosial secara nyaman.

Saya tidak ingin terlalu detail, dan saya ga pengen buka kartu kepada siapa saja saya merasa nyaman itu. Tapi jelas saya pernah mengalami beberapa hal yang sudah lalu, yang saya bisa sebut near-madness experience.

Salah satunya, saya pernah mengirimkan email kepada sebuah website psikologi yang menyediakan konseling gratis. Aku lupa mendokumentasikan apa keluhanku, karna yang namanya iseng2 buat yang grtisan hehe. Aku ngarep bakal dibales, tapi ga nyangka bakal beneran dibales haha.

Email balasan psikolog mengenai keluhanku, waktu itu.


Dear Riri,

Sepertinya kamu sudah tidak bisa bergantung banyak terhadap sahabatmu yang kini semakin sulit untuk diajak berkomunikasi. Artinya kamu harus bisa belajar mengasah kemampuan komunikasimu dan bersosialisasi dengan orang-orang baru. Kalau kamu merasa kesulitan saat ini karena pernah merasa ditolak, maka itu wajar. Hanya saja jgn sampai peristiwa tersebut membuat dirimu menjadi minder dan tidak PD.

Sebelum kamu dapat mengatasi masaah kamu, kamu harus mencari tahu terlebih dahulu, apa yang kamu takutkan dari berkomunikasi dengan orang lain ? Apakah kekhawatiran kamu? Apa yang membuat kamu tidak nyaman dalam bersosialisasi? Kamu takut melakukan kesalahan kah? Kamu takut orang lain mendapatkan kamu tidak sesuai dengan ekspektasi mereka? Atau adakah hal yang lain?

Bila kamu sudah dapat menjawab pertanyaan diatas maka kamu pasti sudah tahu apa masalah yang menghambat komunikasi kamu sebenarnya. Apapun itu, hilangkan ketakutanmu pada saat berkomunikasi dengan orang lain, karena, seringkali apa yang kita takutkan atau pikirkan tidak demikian kenyataannya.


Pernah juga, ini kejadian sewaktu awal semester lalu kalo ga salah. Saya benar2 sedih, benar2 ingin curhat ke temen saya (tapi sayangnya dia lagi kuliah). Sangat, sangat ingin. Sampai dada sangat sesak, rasanya ingin pecah. Sampai otak ini seakan shut down paksa, ga bisa mikir. Luapan perasaan kesedihan yang meledak2, dan tidak mau cerita kepada siapapun selain teman saya yang itu. Ingat sekali momen itu. Di dalam kamar, sendirian. Duduk meringkuk di lantai, menangis berjam2. Berhenti, capek menangis. Lalu menangis lagi sejadi2nya, karna dada sesaknya luar biasa, sakitnya kayak dicakar2 gitu, dan hanya dengan menangis saya bisa tidak merasakan perih di dada itu. Saya butuh cerita, saya telpon berkali2, literally berpuluh2 kali nelpon temen saya yg lagi kuliah. Dan ga mungkin diangkat, tapi akal sehat lagi ga jalan waktu itu. Saya sampe izin kuliah soalnya lagi sedih banget dan ga bisa menahan tangis saya bahkan saat saya sangat tahan saja tidak bisa. (dan dosen cuma bilang, be grown up. apa bisa menyelesaikan kesakitan saya saat itu juga dengan kata2 itu?) Saya teriak2 di private chat teman saya, saya nangis dan nangis terus.... Udah kayak serangan manik depresi kalo saya ingat2. -_-

Dan semuanya selesai saat teman saya menghubungi. Saya kembali biasa aja. Dan itu kali pertama saya merasakan hal yang luar biasa ga enaknya, yang semoga itu serangan pertama dan terakhir dalam hidup saya.

Reminding me of my past-self. Or, maybe it's still me now? Who knows :o

Tidak ada komentar:

Posting Komentar